Selasa, 19 November 2013


SELAMAT TINGGAL...
Oleh : Siti nur R.A
Pagi ini, aku bangun gak seperti hari biasanya. Mataku terbuka tanpa aku mendengar suara alarm handphoneku yang sebelumnya tak pernah nihil untuk membangunkanku tiap pagi dan kulihat handphone mungilku masih tergeletak di samping bantal. Namun kupikir itu gak jadi masalah, soalnya aku masih bisa bangun tepat waktu. Cepat-cepat kusingkapkan selimutku dan segera melipatnya dengan rapi dan akupun segera beranjak ke kamar mandi. Selesai mandi, aku segera mengenakan seragam putih abu-abu’ku dan setelah itu aku beranjak ke rak sepatu dan segera memakai sepatu hitam bertali lengkap dengan kaos kaki putih.

Setelah persiapanku selesai, akupun keluar dari kamar. Kuturuni anak-anak tangga yang menghubungkan lantai atas dengan lantai bawah. “Aneh!!!”, pikirku dalam hati. Mulai kapan suasana rumahku jadi sunyi seperti saat ini???
“maaa….”, panggilku memecah kesunyian rumahku. Namun tak ada jawaban sama sekali. “Mungkin mama sedang pergi ke pasar.”, gumamku. Kucoba untuk memanggil papaku,mungkin papa belum berangkat ke kantor pikirku.
“paaa…papa…”,tak ada jawaban yang kudengar. “Apakah semuanya sedang tidak ada di rumah?”,gumamku lagi.
Lalu aku pun duduk di kursi meja makan dan kulihat tak ada satupun lembaran roti tawar dan selai coklat kesukaanku terletak di meja makan, tak seperti hari-hari biasanya. “ Apa mama terlalu sibuk hari ini sampe ‘ nggak nyiapin sarapan buat aku?”, gumamku yang masih heran dengan keadaan pagi ini. Namun sulit juga dipertanyakan, karena tak ada seorangpun yang bisa kucerca dengan berbagai pertanyaan dariku. Segera kuambil tas dan map plastik bergambar hello kitty yang sudah kusiapkan dan kuletakkan di atas ranjangku. Kemudian aku siap untuk berangkat sekolah seperti biasanya, meski tanpa aku berpamitan kepada papa dan mama. Segera aku menuju ke garasi dan kilihat mobil jazz putihku tak ada di tempat. Aku pun jadi bingung. “Kemana mobilku? Apa dipinjem papa? Tapi kok gak bilang ya?”, batinku dalam hati.Aaah, ya udah’lah, naek angkot juga bisa..

“Sopir angkot tu pada buta kali ya? Ada penumpang kok malah ngeloyor aja!! Udah panas-panas gini.”, gerutuku sambil mengusap keringat yang mulai membasahi keningku. Namun tak berapa lama datang Tante Dina, tetanggaku, dan kusapa beliau, “ Tante”, sambil kubuka bibirku untuk menampilkan senyum manisku. Namun tak kusangka, Tante Dina yang biasanya ramah sama aku, justru berbalik 180°. Tak ada jawaban satu kata pun darinya, senyum pun tak ada. Justru ia sibuk dengan handphonenya. Sepertinya handphonenya masih baru, mungkin karena itu Tante Dina jadi super cuek sama aku. Tapi ya sudahlah, kumaklumi. Dan aku konsentrasi lagi untuk menyegat angkot dan mulai melambai-lambaikan tanganku dengan gemulai. Setelah tiga angkot yang lewat tanpa mempedulikanku, akupun mulai menyerah. “Sulit banget sih nyegat angkot?!?!..”, gumamku dengan dongkol sambil mengusap dahi yang sudah berkeringat sebesar jagung. Kemudian kulihat Tante Dina melambaikan tangan untuk menyegat angkot dan angkot pun berhenti. Sesaat kupikir, “kenapa ya? Apa sopir-sopir angkot ne pilih-pilih kalo cari penumpang? Giliran Tante Dina aja yang nyegat,langsung berenti. Boro-boro aku, malah gak ada yang mau berenti”. Tapi ya sudahlah, kalu begini aku juga dapet untungnya. Akupun naik ke dalam angkot yang berwana biru itu. Aku sengaja duduk di sisi dekat pintu, karena aku suka mabok darat kalau naik angkot. Kulihat Tante Dina duduk di sisi pojok angkot dengan masih asyik sama handphone barunya dan sekali-sekali juga telepon. Jadinya kutahan mulut ini untuk menyapanya hingga mengganggu aktivitasnya dengan handphone baru tersebut. Hingga akhirnya sampailah di depan sekolahku dan akupun turun.

Kelas sepi banget, hampir semua teman-teman satu kelas tidak masuk dan yang ada hanya Sella, Raisa, Diana, dan Oza serta aku yang duduk sendiri di baris ketiga dari depan dan berjarak agak jauh dari yang lainnya. Sengaja aku duduk berjauhan dari mereka, soalnya aku memang gak terlalu suka dengan mereka yang sok kaya dan hobbynya yang cuma shopping..shopping…dan shopping.. Tapi ya udah deh, biarin aja... Bel awal pelajaran pun berbunyi dan kulihat dari jendela terlihat Pak Danu menuju ke kelas. Dan sesampainya di kelas..
“ Assalamualaikum, anak- anak. Pagi ini suasana kelas sangat sepi ya. Mungkin lagi berduka semua akan kepergian teman kalian.”, sapa Pak Danu sambil meletakkan map serta buku-buku yang dibawanya ke atas meja.
“ Berduka karna siapa, Pak?”, tanyaku penasaran. Namun tak ada jawaban. Pak Danu justru mengajak berdoa untuk mengawali pelajaran.
“ Sialan!! Kok gak ada yang bilang sih kalo sekarang ini ada bolos massal?!?!?”, celotehku kesal sambil menyalin tulisan Pak Danu di papan tulis. Di lain sisi, akupun juga memperhatikan Sella yang tak tahu kenapa hari ini terlihat murung ataupun sedih, begitupun dengan tiga sahabatnya. Akupun bertanya-tanya dalam hati, “kenapa tu anak-anak shopaholic mukanya pada sedih gitu ya?”, lalu “ mau nanya, males aahhh..biarin deh, emang aku pikirin.” . Kembali aku konsen untuk menulis catatanku lagi.

Pulang sekolah akupun berniat untuk mampir ke rumah Rizal, pacarku yang sudah mendampingi aku kurang lebih 3 tahun. Usianya memang cukup tua dibandingkan aku, kita terpaut usia 6 tahun. Namun bagiku itu tak jadi masalah, yang terpenting adalah ketulusan cintanya ke aku dan papa serta mama pun mendukung hubungan kami. Justru papa dan mama menyarankan agar Rizal segera menikahiku saat usiaku sudah 21 tahun, kira-kira masih 3 tahun lagi. Alasan yang sering dikemukakan adalah takut Rizalnya jadi tambah tua.Hahahaha…:-D

Akupun naik angkot lagi menuju rumah Rizal. Rasanya panas banget di dalam angkot meskipun hanya aku saja penumpang yang tertinggal satu-satunya di dalam angkot. Segera kuambil satu buah buku tulis yang lumayan tipis dan mulai kukipas-kipaskan ke wajahku untuk mengatasi suhu panas yang ada di dalam angkot ini. “ Gara-gara mobilku pake ng’ilang segala sih, jadi panas-panasan gini deh”, omelku.

Di perjalanan, ada satu hal yang menarik perhatianku. Setelah angkot yang kutumpangi melewati kantor polisi yang tidak jauh dari rumah Rizal, terlihat ada mobil yang kondisinya rusak banget plus peyok, “kayak’nya mobil ini baru kecelakaan deh, parah banget tuh sampai rusak berat gitu”, pikirku. Namun setelah kuterawang lebih jelas, mobil itu hampir sama dengan mobil yang biasa kukendarai kemanapun aku pergi. Mobil itu berwarna dasar putih, sama seperti kepunyaanku. Hanya saja mobil itu memiliki bercak-bercak coklat bekas cipratan lumpur dan ada sedikit bercak-bercak berwarna merah gelap hampir serupa dengan bekas darah yang telah mengering. Namun segera ku hilangkan pikiran itu karena aku sudah sampai di tempat tujuan.
Aku pun melompat dari angkot gila itu. “ Emang sopir angkot edaaan, gak lulus ujian SIM kali ya”, celotehku sambil membersihkan rok abu-abuku yang sedikit kotor gara-gara aku terjatuh pada saat turun dari angkot. Habisnya aku sudah bilang buat berhenti, tapi sopirnya tetep aja kenceng, akhirnya aku lompat deh.

Gerbang putih yang sudah kusam itu terkunci dengan gembok berukuran sedang. “Tumben-tumbennya ne pager digembok. Apa Rizal lagi pergi kali ya?!?! Tapi kok gak sms aku sih?”, bisikku dalam hati. Aah ya sudah, lebih baik aku pulang ke rumah. “Mungkin jalan kaki lebih baik”, pikirku sambil bebalik meninggalkan rumah Rizal yang terlihat sepi.

Langkah menuju rumah pun udah gak seberapa jauh, kira-kira delapan rumah lagilah aku bisa sampai di depan rumah. Kupercepat langkahku karena aku sudah tak sabar untuk sampai di rumah. Tubuh yang sudah penuh dengan keringat serta tenggorokan yang mulai membutuhkan cairan pun semakin tak sabar untuk segera melepas semua kostum pelajarku dan mengisi mulutku dengan air putih yang segar. Namun kecepatan langkahku semakin berkurang. Kulihat banyak mobil dan sepeda motor yang terpakir tidak beraturan di pinggir jalan depan rumah.” Ada apa ya?”, tanyaku heran.
Entah kenapa hatiku serasa dag..dig..dug..saat aku melihat bendera putih berpalang hitam berkibar di atas pagar rumahku. Namun langkahku pun semakin cepat hingga kakiku telah melangkah masuk ke dalam pagar dan melihat banyak orang berkumpul di rumahku. “ Ada apa ini?”, tanyaku dengan perasaan yang tak karuan sambil melihat sekelilingku. Semua wajah hanya kaku tanpa ekspresi yang menunjukkan senyum yang berarti. Justru ekspresi sedih yang hanya ditampakkan. Kulihat Rani dan hampir semua temanku ada di sisi samping halaman rumahku. Kuhampiri mereka. “ Ran, ada apa ini? Siapa yang meninggal?”, tak ada jawaban sepatah katapun dari bibirnya yang tertutup rapat dengan wajah yang ditundukkan ke bawah.” Raaann..Kamu jawab dong..”,pintaku dengan mata yang mulai panas, entah karena apa.

Kupejamkan mataku sesaat untuk menetralkan keadaan mataku. Saat ku buka mataku kembali, kulihat Rizal duduk di sudut belakang halaman rumahku. Terlihat dari jauh bahwa ia sangat sedih. Kuhampiri Rizal dan semakin jelas di mataku bagaimana keadaan Rizal saat ini. Mata yang memiliki bulu mata yang lentik itupun mengeluarkan air matanya dengan deras hingga pipinya yang menggemaskan itu basah. Akupun merasa mataku kembali merasa panas karena melihat Rizal dengan keadaan seperti ini. Segera kuletakkan tas dan mapku disamping pot bunga bougenvil dan aku segera duduk disampingnya. “ Sayang, kenapa kamu nangis?”, tanyaku dengan suara yang agak sedikit bergetar. Tak ada jawaban sedikitpun dari bibirnya justru tangisnya yang semakin menderu.”Sayang..ada apa ini? Jawab dong, jangan bikin aku penasaran.”, tanyaku lagi dengan mata yang udah meneteskan air mata tanpa bisa kubendung lagi dan ku sentuh tangan Rizal. Tapiii..
“ Tuhan, kenapa aku? Di mana ragaku? Kenapa aku gak bias menyetuhnya.”, rintihku sambil berdiri, kutinggalkan Rizal sendiri dan berjalan ke dalam rumah. Terlihat Papa sedang memeluk mama yang ternyata sejak tadi sudah menangis dan sesekali kulihat juga jatuh pingsan. Kulihat disisi kiri ruang tamu dan ternyata ada sesosok tubuh kaku berselimutkan kain putih, gadis yang malang. Tak lain itu adalah tubuhku. Ragaku telah mati dan jiwaku tak dapat lagi menghidupkannya. Kuhampiri
ragaku dan tersungkur aku disisinya. “ Kini, aku tak lagi bisa membahagiakan papa sama mama. Aku tak lagi bisa mewujudkan mimpiku untuk menikah dan mendampingi Rizal serta menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku. Tuhan mengapa ini terjadi?”, tangisku membahana seluruh alam yang tak tahu harus kunamakan alam apa.

Teringat kejadian tadi pagi. Pagi-pagi benar sekitar pukul 04.00, aku bangun dan segera menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu, segera ku berganti pakaian dengan t-shirt bergambar Donal Bebek, tokoh kartun kesayanganku dan celana selutut berwarna hitam. Tak lupa kukenakan sepatu olahragaku yang berwarna putih bervariasi dengan warna biru laut.

Tepat pukul 04.30, aku segera menuju garasi dan segera menghidupkan mobil jazz putihku dan pergi ke rumah Rizal. Pagi ini, aku memang punya janji untuk berolahraga pagi ke alun-alun kota, seperti hari-hari biasanya. Tak tahu kenapa ada sesuatu yang aneh terjadi pada mobil yang kukendarai ini. Dan setelah kusadari ternyata rem mobil’lu blong. Akupun panik, aku tak tahu harus bertindak apa?
“ Tuhan, tolong aku!!!!”, jeritku dalam kekalutanku di dalm mobil.
Namun dari arah berlawanan, kulihat sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi, akupun tak bisa menghindarinya. Akupun tertabrak. Entah bagaimana keadaanku selanjutnya. Yang kutahu, kini aku telah pergi untuk selama-lamanya. Meski aku telah tiada di dunia, tapi aku percaya. Aku akan tetap hidup di hati keluargaku dan di hati Rizal.
SELAMAT TINGGAL

menjaga perasaan demi persahabatan


MENJAGA PERASAAN DEMI PERSAHABATAN
OLEH : SITI NUR ROBIAH.A
Pada suatu hari ada tiga seorang sahabat, dua orang  perempuan dan satu orang laki-laki,  yang bernama Aulia,Aprilia dan Roni,mereka sudah lama bersahabat, begitu dekatnya, mereka pun menganggap satu sama lain seperti saudara sendiri, mereka bersahabat sejak mereka duduk di bangku SD, sampai mereka SMA pun mereka masih tetap menjaga persahabatannya.
Ketika Aulia duduk di bangku SMA, Aulia pun mulai menyukai Roni, akan tetapi Aulia tidak berani mengungkapkan perasaan nya kepada Roni, Karena Aulia tidak mau merusak persahabatan mereka.
Pada saat Bella ulang tahun, mereka bertiga pun di undang oleh Bella untuk menghadiri acara ulang tahun nya, Aulia pun menelepon Roni untuk berangkat bersama.
‘’Hallo .. Assalamu’alaikum”sapa Aulia melalui telepon
“Iya,, Wa’alaikumsallam,,ada apa Aulia,tumben nelpon..?” jawab Roni
“Nggak ada apa-apa kok,oh iya,, kamu mau nggak berangkat ke pesta ulang tahun nya Bella bareng aku..?” Tanya Aulia.
“Iya mau saja,,tetapi bagaimana dengan Aprilia..?,bagaimana kalau kita berangkat bertiga saja..? usul Roni.
“Iya udah terserah kamu saja..” jawab Aulia
“Oh iya ,, udah dulu yah,,aku mau siap-siap dulu,,nanti aku jemput,Wassalamu’alaikum” kata Roni.
“Wa’alaikumsallam” jawab Aulia.
            Ketika di pesta ulang ulang tahun, Aprilia pun asik berbincang dengan Roni, sampai Aulia pun di cuekkan begitu saja. Suatu ketika asik berbincang, Roni pun tiba-tiba mengungkapan perasaan nya kepada Aprilia, dan ternyata ucapan Roni pun terdengar oleh Aulia. Aulia pun kaget mendengar ucapan Roni menyatakan perasaannya kepada Aprilia, tetapi Aulia tidak memberitahukan kesedihannya kepada siapapun termasuk Roni dan Aprilia, Aulia hanya bisa mengelus dadanya, “ Tega sekali mereka kepada ku” dalam batin Aulia sambil menangis, dan Aulia pun pulang tanpa sepengetahuan Aprilia dan Roni.
            Ketika di sekolah, Aprilia menghampiri Aulia yang sedang duduk di samping kelas, dan Aprilia pun bertanya kepada Aulia.
“Tadi malam kamu kemana..?kok hilang begitu saja..?”Tanya Aprilia dengan heran.
“Aku semalam tiba-tiba tidak enak badan..” jawab Aulia menutupi kesedihannya.
“Kok kamu tidak bicara kepada ku dan Roni, siapa tau aku bisa mengantarmu pulang” Kata Aprilia.
“Tidak apa-apa kok, aku tidak mau merepotkan kalian” jawab Aulia sambil pergi meninggalkan Aprilia.
            Selepas di kelas guru pun memberi tugas kelompok yang setiap kelompok nya terdiri dari  2 orang perempuan dan 2 orang laki-laki. Kebetulan, Aulia,Aprilia,Roni dan Aldi satu kelompok. Di saat akan mengerjakan tugas Aprilia dan Roni pun terlihat sangat dekat sekali, dan Aulia pun merasa sedikit cemburu kepada mereka berdua, dan pada saat itu Aulia pun ditanya oleh Aldi.
“kamu  mengapa diam saja..?” Tanya Aldi kepada Aulia.
“Aku tidak apa-apa kok..” jawab Aulia dengan penuh kesedihan.
“Lho kok muka kamu pucat sih,,apakah kamu sakit” Tanya aldi sambil memegang dagu Aulia.
“ Aku bilang aku tidak apa-apa” jawab Aulia sambil melepaskan tangan aldi dari dagunya.
“ Kalo kamu sakit aku akan bicara kepada guru supaya kamu bisa beristirahat di ruang uks untuk sementara” kata Aldi penuh dengan perhatian.
“Iya terima kasih atas perhatian kamu kepada ku,,karna aku masih sanggup belajar kok, dan aku tidak apa-apa” kata Aulia.
“Iya udah,kalau kamu merasa sakit bilang aku yah?aku siap ko membantu kamu.?” Kata aldi
“Iya terima kasih banyak Aldi” jawab Aulia
            Pada saat bel berbunyi Aulia pun pulang sendiri, dan pada saat di perjalanan Aulia merasa pusing saat mengendarai motornya, dan dia pun kehilangan kendali sehingga motor nya terjatuh dan di belakang nya ada sebuah mobil yang sedang melaju cepat ke arah tempat Aulia terjatuh, pada saat Aulia akan menyelamatkan diri, Aulia pun tertabrak oleh mobil tersebut,dan akhirnya Aulia pun di larikan ke rumah sakit terdekat, pada saat di perjalanan menuju rumah sakit Aulia pun menghembuskan nafas terakhirnya.
            Ketika mendengar kabar tersebut,Roni dan Aprilia kaget dan langsung pergi ke rumah sakit untuk menemuinya,dan disana mereka berdua pun  bertemu dengan orang tua Aulia.
“Bu,,bagaimana keadaan Aulia sekarang..?”Tanya Aprilia dengam penasaran.
“Ibu hanya menangis dan tidak menjawab apapun karena masih trauma”
“Keadaan Aulia baik-baik saja kan bu..?”Tanya Roni.
“Aulia sudah tidak ada Ron..”jawab ibu Aulia sambil menangis.
“Apaa…!!!” Aprilia pun merasa kaget karena sahabat nya sudah meninggal akibat kecelakaan.
“Bolehkah saya masuk untuk bisa melihat Aulia yang terakhir kalinya..?”Tanya Aprilia kepada ibu Aulia.
“Iyaa silahkan”jawab ibu Aulia.
“Aulia mengapa kamu tinggalkan kita semua..?” Tanya Aprilia sambil meneteskan air mata.
“Mungkin ini udah takdir yang maha kuasa Pril,jadi kita harus ikhlas”jawab Roni.
“Iyaa Ron kamu benar”sambil menghapus air mata nya.
“Semoga dia bahagia yah di alam sana”kata Aprilia.
“Dia pasti bahagia kok” jawab Roni.
            Saat Aulia akan di makamkan Roni dan Aprilia pun ikut ke pemakamannya. Dan setelah selesai pemakaman ibu Aulia pun memberikan surat kepada Roni yang selama ini di simpan di dalam tas nya.
“Ini ada surat dari Aulia untuk kamu Roni”kata ibu Aprilia sambil memberikan surat nya.
“ Surat..?”jawab Roni.
“ Iya, ibu temukan surat ini dari tas nya Aulia..”kata ibu.
“Oh iya isi nya apa katanya bu..?”jawab Roni dengan penuh rasa penasaran.
“ Baca saja sendiri Ron,Ibu tidak tahu,, iya sudah ibu pulang dulu iya Ron..?”kata ibu,dan lalu ibu pun pergi meninggal kan Roni.
“ Iya bu ,, terima kasih atas surat nya,,”ucap Roni
“Roni aku pulang duluan yah”kata Aprilia.
“Iyaa sudah,hati-hati yah di jalan”jawab Roni.        
Lalu Roni pun membaca isi surat dari Aulia,dan isi nya pun adalah tentang perasaan Aulia kepada Roni.
            “ Roni sebenarnya, aku sejak lama suka sama kamu, tetapi aku aku tidak berani mengatakan kepada mu tentang perasaan ku, aku takut  rasa suka aku ke kamu bisa menghancurkan persahabatan kita yang sudah kita bangun, jadi aku memendam dulu  perasaan aku ke kamu sampai aku bisa menentukan waktu yang tepat untuk bisa mengungkapkan nya pada. Pada saat Bella ulang tahun, padahal aku pengen banget ungkapin perasaan aku ke kamu, tapi harapan ku pupus karna kamu udah ungkapin persaan kamu kepada Aprilia sebenarnya pada saat itu hatiku sakit sekali..!!, , tetapi harus bagaimana lagi, mungkin kita tidak di persatukan menjadi kekasih, dan kita hanya bisa di persatukan menjadi sahabat, tidak lebih, tapi aku tidak menyesal bisa mengenal kamu,aku senang bisa kenal kamu, apalagi bisa bersahabat dengan kamu dan Aprilia. Sekarang kamu dan Aprilia sudah berpacaran, aku pengen hubungan kaliah bisa terus berlanjut hingga ke jejang pernikahan..! aku do'akan semoga kalian berdua bahagia.. dan kalian jangan pernah lupain aku ya…”. Isi surat yang ditulis oleh Aulia.